Theme Layout

Boxed or Wide or Framed

Theme Translation

Display Featured Slider

yes

Featured Slider Styles

[Boxedwidth]

Display Trending Posts

yes

Display Instagram Footer

No

Dark or Light Style

Boleh Tidak Ibu Hamil Vaksin Difteri?



 vaksin difteri

Ibu hamil punya banyak pantangan. Apakah vaksin difteri adalah salah satunya?

Difteri diketahui dapat menyebabkan komplikasi yang serius dan bisa sebabkan kematian. Kabar baiknya, difteri bisa dengan mudah dicegah dengan vaksin. Namun, apakah ibu hamil boleh mendapatkan vaksin difteri?

Difteri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphteriae. Menurut dr. Sara Elise Wijono, M.Res, dari KlikDokter, saat seseorang terinfeksi, bakteri penyebab difteri akan masuk dan menempel di saluran pernapasan serta memproduksi racun.

“Akibatnya, dapat muncul demam, rasa lemas pada tubuh, nyeri tenggorokan, serta pembengkakan kelenjar di area leher,” jelas dr. Sara.

Selanjutnya, racun akan membunuh jaringan di sekitar saluran pernapasan. Jaringan yang mati ini akan membentuk lapisan tebal berwarna abu-abu yang dikenal dengan pseudomembran.

Lapisan ini bisa ditemukan pada hidung, tonsil, pita suara, dan tenggorokan, serta menyebabkan kesulitan bernapas dan menelan. Racun ini juga dapat masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan kerusakan jantung, ginjal, dan saraf.

Difteri bisa berakibat fatal bagi penderitanya, bahkan dengan perawatan yang sesuai sekalipun—kurang lebih 10 persen penderita meninggal dunia. Nah, perlindungan terbaik dari difteri adalah lewat vaksin. Namun, apakah wanita hamil boleh mendapatkannya?

Vaksin difteri yang direkomendasikan untuk ibu hamil
Ada empat jenis vaksin difteri yang beredar di masyarakat.

“Untuk ibu hamil, vaksin yang direkomendasikan adalah TdaP. Vaksin ini berisi tetanus toksoid, toksoid difteri yang dikurangi, serta pertusis aselular,” lanjut dr. Sara.

Pemberian vaksin TdaP aman bagi ibu hamil, malah direkomendasikan. Sampai saat ini, belum ada bukti yang menunjukkan efek buruk bagi janin jika ibu hamil menerima virus yang dilemahkan, ataupun vaksin dengan bakteri atau toksoid seperti pada vaksin TdaP.

Untuk ibu hamil yang khawatir bahwa vaksin ini bisa meningkatkan risiko autisme atau adanya efek samping akibat paparan dengan pengawet thimerosal yang mengandung merkuri, itu semua belum terbukti. Sebagai catatan, vaksin TdaP tidak mengandung thimerosal.

Rekomendasinya, ibu hasil menerima satu dosis vaksin TdaP setiap kali hamil tanpa melihat riwayat vaksin TdaP sebelumnya.

Pemberian vaksin, dijelaskan oleh dr. Sara, akan memaksimalkan respons antibodi ibu terhadap penyakit tertentu, serta membantu transfer antibodi secara pasif dari ibu ke janin.

Waktu terbaik untuk vaksin adalah saat usia kehamilan 27-36 minggu, meski sebetulnya vaksin TdaP bisa diberikan kapan saja selama kehamilan.

Jadi, tak usah khawatir, ibu hamil tetap boleh vaksin difteri. Meski aman, tetapi mungkin muncul efek samping minor seperti nyeri, kemerahan, bengkak di area suntikan, sakit kepala, serta badan lemas. Namun, itu semua sepadan dengan perlindungan akan penyakit difteri, pertusis, dan tetanus pada ibu hamil.

QuickEdit

You Might Also Like

1 comment:

  1. Emang kebanyakan anggapan di masayarakt awam, bahwa ibu hamil banyak pantangannya,gak boleh suntik gak boleh minum obat ini-itu.yah semoga kita semua sehat-sehat saja terlepas dari melakukan vaksin ataupun tidak.

    ReplyDelete

[name=Zefy Arlinda] [img=http://res.cloudinary.com/momsodell/image/upload/v1521166151/Zefy.jpg] [description=Hai Saya Zefy, Hobi Makan-makan | Memasak | Jalan-Jalan.] (facebook=https://www.facebook.com/arlindazefy) (twitter=https://twitter.com/zarlinda) (instagram=https://www.instagram.com/zefyarlinda/)