13 September 2017

Lebaran Idul Adha di Desa Sosokan Taba

Ini adalah late post banget lah ya. Lebaran Idul Adhanya kan dah lama hehehee. Tapi it's ok. Lebih baik telat menulis daripada tidak menulis sama sekali, iyes.

Alhamdulillah tahun ini bisa lebaran di rumah mertua yang artinya aku ga jomblo lagi, uyeeeeeeeeeee....colek yang jomblo hehehee. Aku doakan yang jomblo segera mendapatkan jodohnya, jodoh yang baik, yang dengan bersamanya kalian menjadi pribadi yang lebih baik dan merupakan jodoh dunia akherat, aamiin.

Aku pikir awalnya aku akan ikut merayakan lebaran Idul Adha di rumahku di Kota Bengkulu, lalu pergi jalan-jalan dengan anak-anak Blogger Bengkulu pada keesokan harinya. Tetapi ternyata suami ngajakin lebaran di rumah orang tuanya di Desa Sosokan Taba, Kabupaten Kepahiang. Tentu aku senang mendapat ajakan ini. Ini adalah kesempatanku untuk pendekatan dengan keluarganya dan dunianya. Lagian kan aku suka dengan hal-hal yang baru, ntah bagaimana aku sangat yakin kalau aku akan menemukan banyak hal baru di sana.

Hari raya Idul Adha kali ini jatuh pada hari jumat, tanggal 1 September 2017. Pas banget memang untuk keluar kota. Iyap, kan kalau tanggal merah pada hari jumat libur kita jadi panjang kan ya. Aku dan suami berangkat pada kamis sore dengan semangat 45, makanan enak menunggu di Desa Sosokan Taba. Aku tahu ada makanan enak di sana karena sebelum beragkat adik iparku Sincan mengabarkan kalau mereka sudah siapkan makanan enak untuk kami.

Kami sampai di Desa Sosokan Taba pada pukul 19.00 WIB. Tentu hari sudah gelap dan waktu makan malam sudah sampai.  Kami pun langsung diajak untuk ikut makan malam. Setelah meletakkan tas dan membereskan muka yang agak berantakan aku dan suami ikut makan bersama. Sebenarnya aku kepiign foto selfie dengan mereka sebelum makan, tapi belum kesampaian. Lain kali ajalah sepertinya, jangan sampai mereka takut denganku gara-gara hobi foto ehheehheee...wajar kan ya sebenarnya? kan seorang blogger harus punya banyak dokumentasi :D

Ada yang berbeda dengan lebaran Idul Adha di sini. Perbedaan tersebut ada di cara mereka melaksanakan kurban. Ia, agak berbeda dengan yang biasa dilaksanakan di Bengkulu. Apa bedanya?

Di Desa Sosokan Taba hewan kurban disembelih di rumah masing-masing

pemotongan daging kurban di Desa Sosokan Taba
Pemotongan hewan daging kurban di halaman rumah
Gambar di atas adalah proses pemotongan daging kurban di halaman rumah warga. Agak berbeda dengan kebiasaan di Bengkulu, kalau kami biasanya hewan kurban dipotong kolektif di masjid atau tempat yang sudah ditetapkan.

Daging kurban dibagi ke rumah yang membutuhkan oleh keluarga yang berkurban
Karena hewan kurban disembelih dan dipotong di rumah yang berkurban maka panitia kurban otomatis adalah keluarga yang berkurban. Jadi biasanya pihak keluarga lah yang akan membagikan daging kurban ke rumah-rumah yang dianggap pantas menerima.

Rumah yang berkurban mengadakan syukuran
Hal ini agak baru untukku. Kalau kami biasanya ya masak seperti lebaran biasa. Tidak sampai mengundang banyak orang dan syukuran kelas berat. Berbeda dengan di Sosokan Taba. Di sini orang yang berkurban mengadakan syukuran besar. Makan-makannya seperti pesta, maksudku makannanya lengkap bro. Bayangkan kalau yang berkurban itu banyak, maka persipakanlah perut dari pagi hari. Jangan makan terlalu kenyang karena akan banyak tempat yang mengajakmu makan hehhehe.


Ada hidangan pembuka menyambut tamu berupa kue-kue
Selain menyiapkan makanan berat (nasi dan kawan-kawan), orang yang berkurban juga menyajikan banyak kue kepada para tamu yang datang. Jadi setiap ada tamu datang mereka disajikan kue-kue dulu, setelah itu barulah yang kaum adam potong memotong sedangkan kaum ibu masak-masak.
hidangan kue
Hidangan kue

Kaum ibu  masak bersama 
masak
Masak-masak
Uyee...masak-masak, sebagai salah satu kaum ibu aku ikutan masak di dapur. Iyap, aku ngekor ibu mertua ke dapur. Walaupun aku belum paham obrolan mereka it's ok. Kumpul dengna orang-orang baru itu adalah suatu anugrah. Ibu-ibu di sana juga saru-seru jadi aku betah kumpul dengan mereka.

Mendoa/yasinan sebelum makan bersama
Ini kan konsepnya memagn syukuran ya, jadi sebelum makan-makan diawali dengan mendoa atau yasinan dulu. Aku setuju dengan ini, jadi suasana berasa lebih syahdu lho.

Ingat, buat kalian yang ke Desa Sosokan Taba, Kepahiang, Bengkulu pada saat hari raya Idul Adha persipakan perut kalian. Karena kemungkinan kalian akan diajak makan besar ke banyak rumah pada hari itu hehheeee. Contohnya saja aku, setelah membantu masak di 4 rumah aku memutuskan hanya makan di 1 rumah. Tak sanggup lambung ini kawan, sudah full alias kekenyangan.

Lebaran Idul Adha di tempat kalian bagaimana?

Bengkulu, 13 September 2017

29 comments:

  1. Wahh seru ya disembelih di rumah masing2 tapi agak capek juga kalo disni kan langsung dikasih yang dah dipotong

    ReplyDelete
  2. Baru tahu dan baru pernah denger kalo sembelih hewan qurban di rumah masing - masing apalagi dihalaman rumah. Biasanya kan kalo sembelih hewan qurban di belakang masjid

    ReplyDelete
    Replies
    1. beneran lho tapi zah, klau di sana ya disembelih di rumah masing-masing

      Delete
  3. Baru tahu dan baru pernah denger kalo sembelih hewan qurban di rumah masing - masing apalagi dihalaman rumah. Biasanya kan kalo sembelih hewan qurban di belakang masjid

    ReplyDelete
  4. Aku suka gak tega kalo lagi Iduladha, suka kasian sama embek dan sapinya kaks. Hehehhehe.

    ReplyDelete
  5. Itu kenapa intronya bahas2 jomblo x... Kasian kan para jomblomania merasa terusik keberadaannya.


    Dikampung ku juga merayakan hal yang sama, enak makan bareng itu kalo kita tinggal makan aja tak perlu repot masak hahahha

    ReplyDelete
  6. Enak bner bisa langsung makan2 di tempat yg nyembelih!

    Kalau di kampungku suka2 yg kurban. Mau di masjid oke, di rumah gak masalah. Cuma kalau di masjid, yg repot kan org masjid. Jika di rumah kudu nyari org yg ngurus sendiri, nyembelih, motongnya. Kemarin aku bertugas bagi2 daging aja sih

    ReplyDelete
  7. ooooh ternyata ada acara tasyakurannya yaaa di kepahiang

    kalau di jawa sih enggak, eh maksudnya di tempatku berada. nggak pake syukuran yaa sepertinya serupa lah seperti yang di bengkulu.

    eh btw aku juga minggu lalu baru nulis blog tentang idul adha, hahaha, yaaa memang basi sih, tapi ya selow aja kali yaaa wkwk

    ReplyDelete
  8. Huluh huluh syukuraanya dalam satu hari itu juga kak? Aaah ya ampun kayanya kok aku satu rumah aja udah cukup ya mihihi. Kalo di sini juga opsional sih bisa di depan halaman rumah masing2 atau diserahkan saja ke orang masjid.

    ReplyDelete
  9. masih akrab ya warganya, di tempatku setelah pembagian jatah ya tidak ada apa-apaselain masak di rumah msing2
    lalu saling adu cerita dagingku dimsak ini lho ke tetangga2

    ReplyDelete
  10. Kalo di tempatku penyembelihan hewan kurban di mesjid dan pembagiannya rata untuk smua warga. Ternyata kebiasaan dibeberpa tmpat berbeda ya. Tp yg penting niat ikhlas untuk berkurban karna alloh swt.

    ReplyDelete
  11. Taba itu di mana ya? Kayaknya tenang banget idul adha di sana. Menunjukan, idul adha buanyak banget hikmahnya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dari Kota Kepahiang 1 jam masuk ke dalam, luama dan juauh mas

      Delete
  12. Ini mirip kayak di kampung suami saya di Nganjuk, Jawa Timur, Mbak. Jari Idul Adha kemarin kami juga menyembelih hewan kurban di rumah, truw dibagi-bagiin ke tetangga. Tapi kalo ikut masak di rumah tetangga, saya enggak sih. Masak di rumah suami aja. Hehehe.

    ReplyDelete
  13. Tentang Daging kurban dibagi ke rumah yang membutuhkan oleh keluarga yang berkurban rasanya ini menjadi sesuatu yang unik Mbak. Soalnya kalau di lingkunganku biasanya dititipin aja ke lembaga atau pengurusnya. Nanti yang membagikannya panitia.

    ReplyDelete
  14. cieee seneng ya mba akhirnya bisa ngerasain lebaran idhul adha di kampung suami.. kalo aku biasanya lebaran idhul fitri yang ganti-gantian di tempat orangtua atau di tempat mertua, kalo idhul adha lebih sering di rumah sendiri karena di rumah potong qurban jg jadi gak kemana-mana hehe

    ReplyDelete
  15. Daerah Sosokan Taba itu, masih di sekitar Bengkulu, Mbak? Belum tau hihihi...
    Beda daerah, beda juga kebiasaannya, unik juga.
    Kebayang, perut bakalan kekenyangan seharian, ya ... :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. ia, salah satu Desa di Provinsi Bengkulu mbak :)

      Delete
  16. Wah budaya Idhul Adha yg harmonis. Tapi sbg jomblo saya tidak menemukan korelasi antara filosofi pengorbanan lebaran haji dg status jomblo. Hahahaha

    ReplyDelete
  17. Lebaran haji di tempat saya malah ga ada apa-apanya...biasa aja. Malah saya sih ga pernah keluar rumah. Nunggu kiriman dagingnya aja Hahahahha.

    ReplyDelete
  18. Wiii...newlywedd ternyataaa...
    Barakallah fiik yaa, Zefy.

    Semoga rukun selalu, sakinnah mwaddah dan warohmah selalu keluarga barunya.

    Ikutan seneng baca suasana kekeluargaan dan keakraban di desa Sosokan Taba.
    Pertanda kehidupannya masih saling peduli satu sama lain dan perhatian tepo sliro.

    MashaAllah....
    senangnya....

    ReplyDelete
  19. Kalau di desa itu serunya begini, mereka punya adat dan cara khas untuk merayakan hari raya idul adha.

    kalau aku ya biasa aja di jakarta, bahkan kami berqurbannya ke LAZ krn disini di tempat tinggalku sudah byk bgt yg qurban dan penerimanya itu itu saja. ga ada yg seru.. beda pastinya kalau di kampung halaman, masih terasa banget suasana gotong royongnya

    ReplyDelete
  20. Masih guyub gtu ya? Kalau di rumah ibuku kyknya jg msh kyk gtu2.
    Kalau di tempatku di Depok boro2 hehe.
    Paling banter sholat Id, salaman ma tetangga udah.
    Semoga lestari terus tradisi di desanya saat idul Adha yaaa TFS

    ReplyDelete
  21. Wah tradisi kurbannya unik juga ya kak. Jadi setiap yg berkurban harus open hause untuk tetangga tetangganya. Lucu tapi seru juga sih acaranya beda dengan disini kurban terus selesai

    ReplyDelete
  22. Klu di kampung tu tradisi berkurban lebih seru ya.
    Di kampung saya..hewan kurban disembelih di surau, lalu dibagi bagi ke jemaah dan warga .trus ada masak bersama dan makan bersama di surau

    ReplyDelete

COPYRIGHT © 2017 · ZARLINDA | THEME BY RUMAH ES