17 September 2016

Kemiskinan, kekumuhan dan pendidikan

Kita tidak dapat memungkiri bahwa kemiskinan, kekumuhan dan tingkat pendidikan itu saling berkaitan. Berdasarkan pengalaman di lapangan aku sudah melihat sendiri bahwa memang rata-rata masyarakat tidak mampu hanya tamatan SMP ke bawah, seperti kejadian hari jumat kemaren (15 September 2016). Kami berkunjung  ke rumah salah seorang warga Kelurahan Belakang Pondok Kota Bengkulu, sekalian membawa titipan sembako dari teman-teman. Oh ia, warga yang kami kunjungi tersebut adalah seorang bapak pemulung berumur 65 tahun. Beliau mengaku berasal dari Kota Linggau, Sumatera Selatan dan telah tinggal di Bengkulu selama 10 tahun seorang diri.

Rumah….

Sebenarnya tempat yang kami kunjungi lebih mirip tumpukan sampah dibanding rumah. Coba kalian lihat foto-foto berikut? Apakah kalian menganggap ini rumah?

Rumah dari tumpukan sampah, yang dinding hijau itu rumah tetangga. Tepat di sebelah kiri bapak adalah pintu masuk kerumah beliau.
Kejadian ini sangat miris sekali karena mengingat ini ada di sekitar kita. Bukan tidak mau membantu, ternyata masyarakat sekitar sudah sering menasehati si kakek tetapi beliau menolak nasehat yang masuk. Beliau beralasan bahwa itu adalah kehidupan beliau dan beliaulah yang berhak menentukan kehidupan beliau.

Berdasarkan hasil obrolan dengan beliau terlihat bahwa pengetahuan beliau tentang kesehatan itu sangat kurang. Ini menunjukkan tingkat pendidikan, khususnya pendidikan tentang kesehatan beliau yang masih kurang. Pihak kami mencoba memberikan pengertian pentingnya kebersihan dan kesehatan dengan beliau. Kami juga menawarkan kemungkinan panti jompo tetapi beliau sepertinya masih belum begitu menerima niat baik kami. Nada bicara beliau mulai tinggi, beliau malah mengira kalau kami berkonspirasi dengan masyarakat sekitar untuk mengusirnya. Wah……..Cik Tam yang jadi juru bicara kami juga jadi sedikit kerepotan. Untung setelah cukup lama diajak biacara baik-baik sambil diberi pengertian beliau mulai melunak. Beliau menerima sembako titipan teman-teman peduli yang kami bawa.  Meskipun beliau menyatakan tidak mau pindah dan tidak mau dibantu, beliau merasa nyaman dengan tempat tinggalnya sekarang.

Jelas sekali bahwa pendidikan (pengetahuan) baik itu formal maupun non formal akan mempengaruhi cara berpikir kita, cara hidup, pekerjaan lalu berujung ke pendapatan serta lingkungan.

Hayok lah sekolah
Kita tuntaskan kemiskinan
Kita tuntaskan kumuh

Semangat!! 

4 comments:

  1. Miris ya mbaaa, karena itu Asri merasa terpanggil jadi guru, Asri mau semua orang terbebas dari kemiskinan, kemiskinan materi dan kemiskinan hati.

    Semangat Mba Zefy

    ReplyDelete
    Replies
    1. ia Asri, miris....
      pilihan Asri memang okeh, semoga cita-cita mulia Asri tercapai ya, aamiin


      good luck Asrii.....
      Semangat!!!!!

      Delete
  2. emang di Bengkulu ada yang kumuh, tapi blm parah amat ya jika dibandingkan dg jakarta

    ReplyDelete
    Replies
    1. ia sih mbak, tidak separah Jakarta juga :)

      Delete

COPYRIGHT © 2017 · ZARLINDA | THEME BY RUMAH ES