Friday, 4 December 2015

Sedikit Cerita dari Dusun Tengah

Gelora semangat dalam belajar, canda tawa dalam kebersamaan, kecerian dalam melangkah, dan semua yang berkaitan dengan para siswa sekolah, itulah yang membuat kami para guru rela melewati jalan “menantang” nan panjang setiap hari. SMPN 15 Seluma, sebuah sekolah berlokasi di Dusun Tengah Kecamatan Lubuk Sandi Kabupaten Seluma. Siswa-siswi nya berasal dari Dusun Tengah, Arang Sapat, Napal Jungur, Lubuk Terentang, Talang Kebun, Dusun Baru, dan Cawang. Sebelum bercerita lebih jauh, perkenalkan, saya Drs. Harpizi seorang guru di SMPN 15 Seluma.


Cerita perjalanan ke sekolah

Infrastruktur masih menjadi masalah besar kami untuk mencapai sekolah. Sebagian besar jalan dari simpang jalan raya Seluma menuju ke sekolah kami bisa dikatakan parah, apalagi jika hujan tiba, maka jalan akan susah dilewati. Apalagi melewati beberapa buah tebing dengan batu-batu besar, teman-teman dan saya sering kali jatuh saat memaksakan diri melintasi jalan. Pulang ke rumah dengan bekas biru sudah biasa. Melihat mobil mogok di tengah jalan juga sudah biasa. Ada kendaraan nyangkut di jembatan adalah hal lumrah. Itulah mengapa jika hari hujan, di tengah perjalanan seringkali guru-guru tua disuruh pulang oleh warga karena takut tidak sanggup melintasi medan. Termasuk saya, umur yang sudah di atas 50 tahun membuat mereka menggolongkan saya sebagai guru tua. Sedih rasanya jika terpaksa pulang, kasihan dengan anak-anak yang sudah menunggu kami di sekolah.

Medan jalan yang menguji kegigihan akan lebih seru saat musim harimau datang. Semua tahu kalau Seluma merupakan habitat harimau sumatera yang hampir punah. Ada satu yang mungkin belum tersorot oleh media, ini adalah tentang dampak harimau datang dan sekolah kami. Jika musim harimau datang anak-anak akan berangkat ke sekolah diantar dengan orang tua mereka. Para orang tua merasa bahwa anak-anak mereka tidak bisa dibiarkan pergi ke sekolah sendirian. Pintar memang harus, tetapi keselamatan tetap penting. Lalu bagaimana dengan kami para guru? Kami para guru memang selalu berangkat berbarengan. Biasanya sebelum berangkat ke sekolah kami akan saling berkirim pesan. Kami janjian kumpul di depan jalan masuk Dusun Tengah dan berangkat bersama-sama.

Pergi ke sekolah mirip-mirip dengan masuk Taman Remaja, di sepanjang jalan kami bisa melihat kawanan beruk yang sering menyapa dari atas pohon. Percaya atau tidak mereka memang hobi duduk-duduk santai di pohon pinggir jalan, saat kami melintasi jalan mereka akan mulai membuat kegaduhan atau saya artikan sebagai sapaan hangat dari para primata. Ada pula kawanan babi hutan yang senang melintasi jalan saat kami lewat. Bahkan sesekali kita juga bisa mendengar sapaan dari harimau sumatera atau melihat jejak kaki mereka. Berangkat mengajar benar-benar sesuatu

Guru buangan
Guru-guru yang mengajar di pedalaman seperti kami sering dianggap sebagai guru buangan. Ya….kalau guru-guru yang bagus itu katanya ditempatkan di sekolah favorit dengan lokasi strategis. Saya sering dikatakan bodoh oleh orang-orang karena mau saja menerima keputusan Diknas untuk ditempatkan di desa. Ada yang bilang “Jadila pulo Pak, awak la tuo! Maju ndak ngajar di dalam luak itu. Jadila kepala sekolah bae di luar, mangko betanci! Mangko tu nido litak nian!”. Suatu kalimat aneh yang meluncur dari mulut seorang terdidik. Jelas suatu kalimat yang tidak dipikir panjang. Saya berpikiran positif saja saat itu, mungkin yang ngomong sedang sakit kepala dan kurang baca.



Guru buangan? Masyarakat harus mengubah pemikiran tersebut. Karena jika memang ada yang merasa terbuang itu tidak termasuk saya dan rekan-rekan di SMPN 15 Seluma. Walaupun kami tidak menampik bahwa guru-guru muda akan lebih mudah menempuh perjalanan jauh dibanding kami yang sudah tua. Penempatan kami di SMPN 15 Seluma kami anggap sebagai amanah negara yang mulia. Kami yakin suatu saat akan ada anak-anak dari SMPN 15 Seluma yang menjadi orang besar dan pemimpin. Orang besar dan pemimpin memerlukan pendidikan yang baik sebagai bekal mereka. Coba saja para pembaca lihat foto-foto anak-anak yang semangat belajar di atas, mereka juga hobi berolahraga dan bergotong royong. Anak-anak di SMPN 15 Seluma membutuhkan guru.


Semangat rekan-rekan guru! Kita berikan yang terbaik untuk anak-anak didik kita.

No comments:

Post a Comment

COPYRIGHT © 2017 · ZARLINDA | THEME BY RUMAH ES