29 July 2013

Pengemis mis misssss


Di waktu senggang kali ini saya sangat tertarik mengangkat sebuah fenomena sosial yang sangat populer sejak zaman dahulu kala. Fenomena itu adalah “ngemis”. Saya membahas masalah ini karena menurut pengamatan saya, akhir-akhir ini jumlah pengemis terus bertambah. Para pengemis terlihat di mana-mana, mulai dari persimpangan jalan, pusat perbelanjaan, tempat ibadah, tempat makan, perkantoran, dan sekolah. Mereka terlihat sangat bersemangat. Teknik yang dilakukan dalam mengemis juga semakin bervariasi, contohnya saja:

1.   Datang ke rumah-rumah dengan membawa selebaran atau proposal, biasanya mereka mengatasnamakan panti asuhan,  pesantren, atau anak yatim piatu. Biasanya pakaian yang mereka pakai lumayan rapi.
2.       Minta dari kendaraan ke kendaraan, pada kasus ini biasanya yang jadi sasaran adalah mobil-mobil bagus karena dulu pernah kejadian mobil yang kebetulan ada di samping motor butut saya dihampiri sedangkan saya tidak, mungkin mereka maklum hhehhhee…
3.       Pura-pura sakit.
4.       Pura-pura lapar.
5.       Dan sejenisnya.

Uang,, penyebab orang mengemis -_-


Kejadian yang pernah  saya alami:
Seorang ibu-ibu mampir ke rumah saya sambil membawa proposal, katanya sih untuk para anak yatim. Si ibu menjelaskan proposal dengan panjang lebar, berhubung saya sedang baik hati, saya memberikan sejumlah uang pada beliau. Tak disangka ternyata si ibu kangen dengan saya, terbukti beberapa minggu kemudian si ibu datang lagi untuk meminta sumbangan dan saya memberikan sejumlah uang pada sang ibu. Tahukah kelanjutannya? Ternyata si ibu semakin kangen dengan saya, beliau datang lagi dan meminta sumbangan dari saya, dan…. saya meberikannya. Dlam hati saya bergumam (OK deh bu, saya kasi deh sekali lagi mumpung saya sedang baik hati). Selanjutnya… ternyata si ibu kangen berat dengan saya, tetapi untuk kali ini saya tidak memberikan yang diharapkan. Saya merasa dikerjain sama si ibu.

Kejadian yang ibu saya alami:
Seorang pemuda berdiri dengan sebelah kakinya dan meminta-minta di persimpangan jalan, ia mengenakan baju rombeng, memasang wajah menyedihkan (pokoknya terlihat sangat tragi……….s menurut saya dan adik-adik saya yang tercinta, si pemuda berbakat jadi aktor), dia memegang tongkat untuk membantunya berdiri dan membawa kaleng untuk tempat uang. Karena merasa kasihan ibu memberikan sedikit uang kepadanya dan hal ini berlangsung beberapa kali. Tetapi beberapa bulan kemudian saat ibu dan ayah pergi ke pasar, mereka melihat si pemuda di pinggir jalan, pekerjaannya tetap mengemis. Apa yang berbeda? Sekarang si pemuda mengenakan pakaian mahal, memakai kalung emas, cincin emas dan jam tangan mahal yang ayah saya pun belum berani membelinya (ya,,, sebenarnya karena uangnya belum ada he,, habis harganya juta-juta). Ibu saya pasti sangat terkejut, perhisaan yang dipakai menandakan dia sudah memiliki cukup modal untuk bekerja atau melakukan hal lain selain mengemis. Mulai saat itu Ibu tak mau lagi memberinya uang

Kejadian selanjutnya:
Saya dan teman-teman bertemu para pengemis yang ternyata mengguanakan uang hasil pemberian orang-orang terlanjur dermawan untuk membeli lem aibon dan menghisapnya.


Jadi sekarang saya sudah mulai malas untuk meberi uang pada para pengemis karena saya takut mereka kangen dengan saya, mereka seringkali menggunakan uang pemberian untuk hal-hal yang tak perlu, mereka juga tetap mengemis walau uang yang mereka dapat sudah cukup untuk membuat usaha yang lebih baik dan terhormat. Siapa yang salah coba? Hm… suatu hal yang perlu jadi renungan.

No comments:

Post a Comment

COPYRIGHT © 2017 · ZARLINDA | THEME BY RUMAH ES